Telepon : 082120066120

PATELKIJABAR

Apakah Kalau Protein Urine Positif Harus Selalu Ada Silinder?

Leave a Reply Cancel reply Logged in as [email protected]. Edit your profile. Log out? Required fields are marked * Message* Apakah Kalau Protein Urine Positif Harus Selalu Ada Silinder? Proteinuria tidak selalu disertai munculnya silinder Hasil protein urine positif sering membuat pasien maupun tenaga laboratorium langsung berpikir ke arah gangguan ginjal berat. Padahal, dalam interpretasi urinalisis, proteinuria tidak selalu harus disertai silinder. Keduanya memang bisa muncul bersamaan pada penyakit ginjal tertentu, tetapi keduanya tidak wajib selalu hadir bersamaan pada setiap kasus. Apakah kalau protein urine positif harus selalu ada silinder? Tidak. Protein urine positif tidak harus selalu disertai silinder. Sumber rujukan klinis menyebutkan bahwa proteinuria dapat muncul sebagai isolated proteinuria, yaitu adanya protein dalam urine tanpa gejala lain atau tanpa kelainan urine lain. Dalam banyak kasus, proteinuria juga bisa bersifat sementara atau fungsional, sehingga pada pemeriksaan mikroskopik belum tentu ditemukan silinder. Kenapa protein urine bisa positif tanpa ada silinder? Karena proteinuria dan silinder menilai hal yang berbeda. Dipstick protein terutama mendeteksi albumin, sedangkan silinder adalah struktur yang terbentuk di tubulus ginjal. Jadi, urine bisa saja menunjukkan protein positif, tetapi proses pembentukan silinder belum terjadi, tidak banyak, atau tidak tertangkap pada sedimen urine. Selain itu, proteinuria dapat terjadi secara sementara pada kondisi seperti demam, olahraga berat, dehidrasi, atau stres fisiologis, dan bisa menghilang saat kondisi pencetusnya membaik. Apakah hasil protein urine positif selalu berarti penyakit ginjal? Tidak selalu. Beberapa kasus memang berhubungan dengan kelainan glomerulus atau tubulus, tetapi sebagian lain bersifat transien atau bahkan dipengaruhi faktor preanalitik dan analitik. Literatur AAFP menyebutkan bahwa urine yang sangat alkali, sangat encer atau pekat, hematuria nyata, serta adanya mukus, semen, atau sel darah putih dapat membuat dipstick tampak positif palsu untuk protein. Karena itu, hasil protein positif tidak boleh langsung disimpulkan sebagai penyakit ginjal tanpa konfirmasi lanjutan. Lalu, kapan silinder urine biasanya muncul? Silinder urine lebih bermakna ketika ada proses patologis di ginjal, terutama di tubulus atau glomerulus. AAFP menyebutkan bahwa hyaline cast tersusun dari protein dan bisa merupakan temuan normal atau muncul pada penyakit ginjal; RBC cast dan WBC cast mengarah kuat ke penyakit glomerulus; sedangkan granular cast dapat menunjukkan cedera tubular seperti acute tubular necrosis. Merck juga menegaskan bahwa hyaline cast dapat ditemukan pada urine normal, dehidrasi, atau aliran urine rendah, sedangkan RBC cast sangat khas untuk glomerulonefritis. Jadi, apakah semua silinder itu pasti abnormal? Tidak. Hyaline cast adalah contoh penting bahwa tidak semua silinder bersifat patologis. Hyaline cast dapat muncul pada orang sehat, pada dehidrasi, setelah terapi diuretik, atau saat stres fisiologis. Yang lebih perlu diwaspadai adalah silinder yang “aktif” secara patologis, seperti RBC cast, WBC cast, granular cast dalam konteks klinis yang sesuai, atau fatty cast dalam jumlah banyak yang dapat mengarah ke sindrom nefrotik. Kalau begitu, apa langkah yang benar saat protein urine positif? Langkah yang benar bukan langsung mencari silinder sebagai syarat wajib, tetapi mengonfirmasi proteinuria. AAFP menyarankan proteinuria pada dipstick ditindaklanjuti dengan pemeriksaan kuantitatif seperti spot urine albumin/creatinine ratio (ACR) atau Proteine-Creatinine-Ratio (PCR). KDIGO 2024 juga menyarankan bahwa hasil strip yang positif untuk albuminuria atau proteinuria perlu dikonfirmasi dengan pemeriksaan kuantitatif, idealnya dinyatakan sebagai ACR atau PCR, dan untuk konfirmasi albuminuria disarankan memakai sampel urine pagi pertama. Apakah mikroskopik urine tetap penting bila protein positif? Ya, tetap penting. Merck menyebutkan bahwa pasien dengan dipstick protein positif sebaiknya menjalani urinalisis mikroskopik rutin. Pemeriksaan ini membantu menilai ada tidaknya silinder, eritrosit dismorfik, glukosa, keton, atau temuan lain yang bisa mengarahkan penyebab. Jadi, mikroskopik urine berfungsi sebagai bagian interpretasi yang melengkapi, bukan sebagai syarat bahwa proteinuria baru “valid” kalau ada silinder. Kapan hasil protein urine positif perlu lebih diwaspadai? Hasil ini perlu lebih diperhatikan bila menetap pada pemeriksaan ulang, atau disertai kelainan lain seperti hematuria, edema, hipertensi, penurunan fungsi ginjal, atau temuan sedimen aktif seperti cast dan eritrosit dismorfik. Merck menekankan bahwa bila urinalisis lain normal, pemeriksaan dapat diulang; tetapi jika proteinuria menetap, hal itu lebih mengarah pada gangguan glomerulus dan memerlukan evaluasi lanjutan. Jadi, apa kesimpulan sederhananya untuk TLM? Protein urine positif tidak harus selalu ada silinder. Proteinuria bisa muncul sendiri, bisa bersifat sementara, dan bisa juga perlu dikonfirmasi ulang. Silinder justru memberi nilai tambah dalam interpretasi karena membantu menunjukkan lokasi dan jenis proses patologis di ginjal, tetapi ketiadaannya tidak meniadakan proteinuria. Dalam praktik TLM, hasil terbaik adalah membaca protein, sedimen urine, dan konteks klinis secara bersamaan, bukan secara terpisah. Baca Juga Apakah Kalau Protein Urine Positif Harus Selalu Ada Silinder? Mengapa TLM Harus Pandai Public Speaking? Flebotomy di Lapangan untuk ATLM: Strategi, Teknik, dan Tips Memaksimalkan Keberhasilan Handling Komplain yang Baik untuk TLM: Panduan Profesional, Empatik, dan Solutif QC dalam TLM: Panduan Lengkap dari Pre-Analitik hingga Post-Analitik Kegiatan Ilmiah XXI PATELKI DPW Jawa Barat Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Metode Sahli Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Metode Talquist Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Metode Falling Drop PATELKI | Sejarah Dan Perkembangannya Pemeriksaan Hematologi Rutin | Pre Analitik , Analitik dan Post Analitik Pemantapan Mutu Internal(PMI)Laboratorium Klinik MUTU LABORATORIUM KLINIK Akreditasi dan Regulasi POCT Pengenalan Tahap-tahap Pengendalian Mutu Faktor – Faktor Penyulit Pada Flebotomi Pengertian, Jenis Dan Klasifikasi Laboratorium Medik Prosedur Pada Flebotomi Sederhana Sejarah Pemeriksaan Kimia Klinik

Mengapa TLM Harus Pandai Public Speaking?

Public speaking bukan hanya kemampuan berbicara di depan umum, tetapi juga keterampilan penting bagi TLM untuk menyampaikan ide dengan jelas, membangun kepercayaan, dan menunjukkan profesionalisme. Dengan public speaking yang baik, TLM dapat lebih percaya diri, komunikatif, dan siap menghadapi berbagai situasi di dunia kerja maupun organisasi.

Kegiatan Ilmiah XXI PATELKI DPW Jawa Barat

PATELKI DPW Jawa Barat Gelar Kegiatan Ilmiah XXI: Fokus pada Transformasi Teknologi Pemeriksaan Laboratorium Bandung, 11-12 Oktober 2024 — Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (PATELKI) DPW Jawa Barat kembali mengadakan kegiatan ilmiah tahunannya yang ke-21 dengan tema “Peran Strategis ATLM dalam Transformasi Teknologi Pemeriksaan Laboratorium”. Acara ini akan diselenggarakan di Harris Hotel & Conventions Ciumbuleuit, Bandung, selama dua hari, yaitu Jumat dan Sabtu, 11 dan 12 Oktober 2024. Kegiatan ilmiah ini bertujuan untuk memberikan pembaruan dan pengetahuan mendalam kepada para Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) terkait perkembangan terbaru dalam teknologi laboratorium. Selain itu, acara ini akan membahas peran penting ATLM dalam mendukung kualitas dan efektivitas sistem pelayanan kesehatan, khususnya melalui implementasi teknologi mutakhir dalam proses pemeriksaan laboratorium. Ada empat workshop unggulan yang akan digelar selama acara ini, yaitu: Workshop Verifikasi dan Validasi Hasil Pemeriksaan LaboratoriumWorkshop ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai proses verifikasi dan validasi hasil pemeriksaan laboratorium guna memastikan akurasi dan keandalan data hasil pemeriksaan. Workshop Manajemen Laboratorium: Sistem Manajemen Mutu Laboratorium KesehatanWorkshop ini akan membahas sistem manajemen mutu dalam laboratorium kesehatan, termasuk penerapan standar dan prosedur yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan laboratorium. Workshop Update Pemeriksaan Mikrobiologi MolekulerFokus workshop ini adalah pada teknologi terbaru dalam pemeriksaan mikrobiologi molekuler, memberikan wawasan tentang teknik mutakhir untuk deteksi dan analisis mikroorganisme dalam sampel klinis. Workshop Update Teknologi Pemeriksaan LaboratoriumWorkshop ini akan mengupas pembaruan dalam teknologi pemeriksaan laboratorium, yang dapat meningkatkan efisiensi dan akurasi pemeriksaan di berbagai bidang laboratorium klinik. Bagi para peserta yang tertarik untuk mengikuti kegiatan ilmiah ini, pendaftaran telah dibuka. Diharapkan agar segera mendaftar melalui situs resmi kami di patelkijabar.org sebelum kuota peserta terpenuhi. Acara ini menjadi ajang penting bagi para ATLM untuk meningkatkan kompetensi dan memperbarui pengetahuan, sekaligus mempererat jaringan profesional di bidang laboratorium medis. Jangan lewatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini dan menjadi bagian dari transformasi teknologi di laboratorium kesehatan.   

Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Metode Sahli

Metode : Sahli ( kolorimetris ) Reagensia : a. HCl 0.1 N b. Alkohol 70 % c. Edta d. Aquadest Prinsip : Hemoglobin diubah menjadi hematin asam dengan bantuan larutan HCl 0.1 N, kemudian warna yang erjadi dibandingkan secara visual dengan warna standar. Bahan : Darah kapiler Alat yang dipakai : a. Hemoglobinometer , yang terdiri atas:  Gelas berwarna coklat (warna standar)  Tabung hemometer/tabung pengencer  Pipet hemoglobin yang mempunyai rumus 20 cmm  Pengaduk dari gelas b. Pipet pasteur c. Blood lancet d. Kapas Prosedur : a. Isi 5 tetes larutan HCl 0.1 N kedalam tabung pengencer b. Hisap darah dengan menggunakn pipet hemoglobin sampai tepat pada tanda 20 cmm c. Bersihkan bagian luar ujung pipet dengan kapas kẻring d. Darah ditiup hati-hati ke dalam larutan HCl 0.1N dalam tabung pengencer tanpa menimbulkan gelembung udara e. Sebelum dikeluarkan, bilas pipet 2 sampai 3 kali kedalam larutan HCl 0.1N dengan menghisap dan meniup HCl 0.1N ke dalam tabung pengencer f. Campurlah darah dengan HCl 0.1 N g. Encerkan dengan aquadest tetes demi tetes sambil điaduk sampai đidapatkan warna yang sama dengan warna standar h. Baca pada minicus bawah dan nyatakan dalam % atau gr/dl Nilai Rujukan atau Nilai Nỏmal : a. Wanita : 11 – 15 gr/dl b. Pria : 13 – 17 gr/d c. Bayi : 17 – 23 gr/dl Catatan : Pemeriksaan kadar hemoglobin metode sahli ini sudah mulai ditinggalkan karena tingkat akurasinya yang belum optimal , karena alat ini tidak distandarisasi ulang Pemeriksaan Hb sahli ini sewaktu-waktu dapat mengalami kesalahan karena : 1. Volume pipet hb tidak tepat 20 cmm 2. Warna standar sering sudah pucat 3. Pengambilan darah yang kurang baik 4. Reagen yang digunakan kurang sempurna Tingkat kesalahan berkisar antara 5 sampai 10 %

Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Metode Talquist

Metode : Talquist Prinsip : Warna darah yang menempel pada kertas saring talquist dibandingkan dengan warna standar yang tersedia pada buku talquis.S tandar menunjukkan kadar Hb dalam prosentase. Kadar Hb 100 % setara dengan 15,8 gr/dl 3 (Sugiono, 2011). Alat : a. Kapas alkohol 70 % b. Blood lancet c. Kertas saring dan buku talquis Prosedur kerja: a. Lakukan sterilisasi lokal dengan kapas alkohol 70 % b. Lakukan tusukan perifer (hapus tetes pertama yang keluar) c. Teteskan setetes darah pada kertas saring talquis d. Setelah merata cocokkan warnanya dengan standar warna yang ada pada buku talquis e. Baca prosentasenya pada warna standar pada buku talquist Nilai Normal : Prosentase minimal 80 % Catatan : Metode ini tidak dianjurkan untuk digunakan karena akurasinya kurang dan tingkat kesalahan antara 25- 50%. Metode ini sudah jarang digunakan, kadangkadang digunakan dalam keadaan darurat.

Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Metode Falling Drop

Metode : Melakukan pemeriksaan kadar Hemoglobin dengan larutan CUSO4 BJ 1.053 dan BJ 1.062 (Susilo,2014). Prinsip : Alat : Reagen :  CuSO4 BJ 1.053  CuSO4 BJ 1.062 Cara Kerja : a. Siapkan 2 buah beaker glass ukuran 50 ml, beri identitas masing-masing Dengan tanda Bj : 1.053 dan Bj : 1.062 ( maksimal untuk 20 pemeriksaan) b. Ke dalam beaker glass Bj : 1.053 masukkan larutan CuSO4 Bj 1.053 sebanyak 40 ml ( untuk 20 pemeriksaan ) c. Ke dalam beaker glass Bj : 1.062 masukkan larutan CuSo4 Bj 1.062 sebanyak 40 ml ( Untuk 20 pemeriksaan ) d. Desinfeksi ujung jari donor dengan alkohol swab, Dengan cara dari ujung jari menuju ke pangkal jari e. Tusuk jari manis dengan posisi Vertikal,menggunakan blood lancet f. Usap jari donor dengan kassa steril dari ujung jari menuju ke pangkal jari g. Ambil darah donor dengan menggunakan capilari tube dari lubang yang ada anticoagulant heparin ( warna merah ) sampai hampir penuh. h. Teteskan darah kapiler posisi tegak lurus dengan jarak tetesan ±2-3 cm dari permukaan larutan masing-masing 1 tetes ke dalam 2 jenis larutan tersebut. i. Perhatikan tetesan darah tersebut dalam waktu 15 detik. j. Interpretasi hasil

PATELKI | Sejarah Dan Perkembangannya

PATELKI (Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia) atau “The Indonesian Assocation of Medical Laboratory Technologist” adalah organisasi profesi Ahli Teknologi Laboratorium Medik (dulu Analis Kesehatan) yang didirikan untuk maksud dan tujuan menghimpun seluruh anggota untuk mempersatukan diri dalam meningkatkan peran serta secara aktif, terarah dan terpadu.

Malu Bertanya? Sesat Di Profesi, yuk tanya

Silakan Hubungi CP kami

Puji Nugroho
Puji Nugroho

Humas

I am online

I am offline

Angga Suriadihardja
Angga Suriadihardja

Sertifikasi Standarisasi

I am online

I am offline

Rini Puspandari
Rini Puspandari

OKK

I am online

I am offline

Rohayati
Rohayati

DIKBANG

I am online

I am offline

Edi Dwiono
Edi Dwiono

Hukum & Advokasi

I am online

I am offline

Rachmi Maharani
Rachmi Maharani

Majelis Kode Etik

I am online

I am offline